Sponsors

Tampilkan postingan dengan label peluang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

Bisnis e Book Store di Indonesia Peluang Besar Tantangan Banyak

JAKARTA, KOMPAS.com - Hadirnya Papataka.com sebagai e-book store pertama yang menggunakan Digital Rights Management (DRM) merupakan sebuah sinyal bahwa industri ini merupakan bisnis yang menjanjikan di kemudian hari. Sebagai pemain pertama di bidang tersebut di Indonesia, Papataka.com juga masih terbilang fresh karena baru dirilis pada bulan Juni 2010. 

"Kita baru saja rilis dengan model bisnisnya mencontoh dari Amazon yang mengeluarkan Amazon Kindle," ujar pemilik Papataka.com, An Kaliman, Minggu (4/7/2010), di Jakarta. Namun, jika Amazon memiliki eReaders sendiri yang dinamakan Amazon Kindle untuk setiap e-book yang dijualnya, Papataka.com masih menggunakan eReaders dari produk luar seperti iRiver dari Korea dan Cybook dari Prancis. 

An Kaliman melihat bahwa bisnis e-book store ini cukup menjanjikan karena sifat e-book itu sendiri yang mengutamakan kepraktisan. Selain itu, perkembangan teknologi juga yang kemudian menciptakan eReaders untuk membaca e-Book, yang tentunya mendukung industri ini. 

"Respon yang diterima masyarakat juga sangat positif karena untuk buku impor harganya sangat mahal. Tapi e-book yang dijual di Papataka, harganya lebih murah 20 persen dari harga buku di toko," ujarnya kepada Kompas.com

Selain itu, ke depannya, e-Book tidak lagi akan dijual secara keseluruhan dalam satu e-book atau cover to cover, melainkan dipecah menjadi per bab. "Ini menguntungkan pembaca karena bisa melakukan preview sebelum membeli secara penuh. Kalau tidak suka, ia bisa batal membeli," ungkap An Kaliman. 

Selain itu, Papataka.com juga akan menambah koleksi e-book dengan menggandeng penerbit lokal. "Kita sudah coba mendekati publisher lokal, tapi mereka masih wait and see," An menjelaskan. 

Apabila bisnis ini nyatanya menguntungkan publisher, bukan tidak mungkin di kemudian hari penerbit lokal pun akan mulai merambah pasar e-book. Bisnis e-book store ini juga terbilang tidak segmented. "Kita tidak menargetkan market tertentu, karena siapa saja bisa baca e-book. Apalagi orang punya laptop sudah banyak," ujar An. 

Namun, An juga menjelaskan bahwa ada dua tantangan dalam menjalankan bisnis ini yakni masalah hardware pendukung. "Hardware eReaders sekarang masih mahal, tapi saya lihat dua tahun mendatang harga eReader akan semakin menurun," ujarnya. 

Sedangkan masalah lainnya, bisnis e-book store juga terkendala pengetahuan masyarakat akan e-book. An beralasan, "Banyak orang belum paham apa itu e-book dan bagaimana manfaatnya." 

Adapun meski bisa terbilang baru di tanah air, e-book store dengan DRM ini sebenarnya sudah berkembang pesat di dunia barat. Kehadiran Amazon Kindle dan Apple iPad semakin membuktikan bahwa bisnis e-book menjadi lahan potensial untuk digarap.

Sumber : http://tekno.kompas.com
Read More..

Peluang Usaha 2013 Toko Obat Ga ada Matinya

Ingin membuka toko obat di daerah anda?
Ayo, main-mainlah ke Pasar Induk Kramat Jati lantai 2. Siapa tahu saja anda memperoleh inspirasi sepulang dari sana, atau bahkan memperoleh mitra suplier obat murah untuk calon toko obat anda. Berkelilinglah, cobalah survei harga obat di sini, lalu bandingkan dengan harga obat di daerah anda. Hitung saja selisihnya, jika memang realible, kenapa tidak?
Bisnis bisa dari mana saja….

Di pasar induk Kramat Jati, ada sentra penjualan obat yang lumayan besar. Cobalah ke lantai 2 pasar ini, ada sekitar 40an toko obat berbaris rapi di sana. Menurut sejarahnya, pasar obat-obatan ini sudah ada sejak tahun 1990. Namanya pasar, aneka jenis obat ada di sini, dari obat paten yang mahal hingga obat generik tersedia lengkap.


Salah seorang pedagang di sentra obat pasar induk kramat jati mengaku menjual hampir semua jenis obat-obatan. Harganyupun sangat variatif. Mulai 1500 per pak hingga 300 ribu per pak. Harga rata-rata adalah 100 ribu per paknya.

Dari pengamatan kami, pasar obat ini mulai buka jam 08.00 pagi hingga tutup jam 19.00 malam. Paling ramai waktu siang hari. Seorang pedagang mengaku rata-rata omset sehari berkisar antara 3 juta hingga 5 juta. Namun, menurut seorang pedagang lain, omset sebesar itu tidaklah menghasilkan keuntungan besar. Mereka hanya mengambil laba 5%-10% saja. Artinya, harga obat di sini pasti murah.

Yang lebih menarik lagi, harga obat di sentra obat Pasar Induk Kramat jati ini, biasanya lebih murah dari harga banderol yang tertera di kemasan obatnya. Beberapa toko bahkan tidak mematok harga pas, alias bisa ditawar. Asik, kan?

Jadi, tidak heran jika sentra obat pasar induk Kramat Jati ini adalah salah satu pilihan tepat untuk kulakan obat-obatan. Harga murah, jenis obatnya pun sangat lengkap.Lihatlah, di sentra obat Pasar Induk Kramat Jati ini, setiap hari ada ratusan orang dari berbagai tempat di Jakarta maupun luar Jakarta berkumpul. Bahkan tidak jarang terlihat pedagang obat dari luar pulau Jawa berbelanja di sini.

Siap menjadi pedagang obat di daerah anda? Selamat mencari inspirasi!
:)
Pasti anda juga suka Info berguna lainnya:

    Jadi "KING" dengan Bisnis Itik Peking
    Peluang Bisnis: Keagenan Sabun Herbal, Repeat ord
Read More..